ROKAN HULU, DetakRohul.com — Pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Rokan Hulu semakin mendapat perhatian serius. Mabes TNI turun langsung ke Kecamatan Bonai Darussalam untuk memperkuat sinergi sekaligus memastikan langkah pencegahan karhutla dilakukan sejak dini, Selasa (1/9/2026).
Kehadiran jajaran TNI dari tingkat pusat tersebut menjadi sinyal kuat bahwa ancaman karhutla tidak boleh dianggap sepele. Pencegahan harus dilakukan sebelum api muncul dan berkembang menjadi bencana yang sulit dikendalikan.
Dalam kegiatan penyuluhan pencegahan dan penanggulangan karhutla itu hadir sejumlah perwira TNI, di antaranya Brigjen TNI Andi Tiawardi, Kolonel Laut Cokorda, Kolonel Supriadi, Kolonel Ivan Supriadi, Letkol Laut Heri, Mayor Arm Nanda Supriatna serta Mayor Arm Endang Lili.
Turut hadir Perwira Pendamping (Paping) Danramil 05 Mayor Inf Hendri Dunan dan Danramil 10/KDS Kapten Inf Devi Khorul Edwar.
Kepala Desa Sontang Jadi Garda Terdepan
Dalam kegiatan tersebut, peran pemerintah desa menjadi salah satu perhatian penting. Kepala Desa Sontang, Zulfahrianto, SE, diharapkan mampu memperkuat pengawasan wilayah serta menggerakkan masyarakat untuk bersama-sama mencegah terjadinya karhutla.
Pesannya sederhana namun tegas: jangan menunggu api membesar baru bertindak.
Pemerintah desa harus memastikan komunikasi dengan masyarakat dan aparat keamanan berjalan cepat. Jika ditemukan asap, titik api maupun aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, informasi harus segera diteruskan kepada pihak terkait agar dapat ditangani sedini mungkin.
Meski saat ini tidak disebutkan adanya persoalan khusus di Desa Sontang, langkah pencegahan tetap harus diperkuat. Sebab, karhutla dapat terjadi sewaktu-waktu dan penyebarannya tidak mengenal batas administrasi desa maupun kecamatan.
Satu Titik Api Jangan Dibiarkan Membesar
Penyuluhan tersebut juga menegaskan pentingnya kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan. Pembukaan lahan dengan cara membakar harus dihindari karena berpotensi memicu kebakaran yang lebih luas.
Pemantauan wilayah, edukasi masyarakat, patroli dan pelaporan cepat menjadi kunci utama.
Satu titik api yang segera diketahui dan ditangani dapat mencegah kerugian yang jauh lebih besar. Sebaliknya, keterlambatan beberapa menit saja dapat membuat api semakin sulit dikendalikan, terutama ketika kondisi cuaca dan angin mendukung penyebaran api.
Karena itu, masyarakat diminta tidak bersikap pasif. Pemerintah desa dan aparat harus membangun pola kerja yang cepat, terkoordinasi dan tidak saling menunggu.
TNI: Pencegahan Harus Lebih Diutamakan
Kegiatan Mabes TNI di Bonai Darussalam menjadi momentum untuk menyatukan langkah antara TNI, pemerintah daerah, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, aparat keamanan dan masyarakat.
Penanganan karhutla tidak cukup hanya mengandalkan personel ketika kebakaran sudah terjadi. Kekuatan utama justru berada pada pencegahan, deteksi dini dan kecepatan laporan.
Jangan sampai menunggu asap terlihat tebal baru bergerak. Jangan menunggu api membesar baru melakukan pemadaman.
Bonai Darussalam harus mampu menjadi wilayah yang sigap menghadapi ancaman karhutla. Desa Sontang sebagai salah satu bagian penting di wilayah tersebut diharapkan terus memperkuat kewaspadaan dan mengajak masyarakat menjaga lingkungan.
Sebab, keberhasilan penanganan karhutla bukan hanya tentang seberapa cepat api dipadamkan, tetapi seberapa banyak kebakaran yang berhasil dicegah sebelum terjadi.
Red: Robet HTR
